Tak Perlu di Paksakan
Langit tampak indah setelah hujan reda dengan hiasan warna-warni pelangi. Jalan-jalan pun mulai ramai kembali dengan lalu lalang kendaraan, setiap sudut jalan orang-orang mulai kembali beraktifitas.
Essa ternyata sudah menunggu saya lama, dengan mengirim pesan melalui Whatsapp.
Hari ini ada bazar buku, saya dan essa akan datang ke sana. Tentu, untuk mencari buku-buku baru dengan harga yang terjangkau.
Maaf, menunggu lama. (ucapku ke essa). Ouh yaa ndak apaapa. (essa membalasnya).
Jalanan masih tampak basah dan banyak genangan air akibat hujan tadi, 15 menit perjalanan kita telah sampai. Tak banyak yang kita bicarakan selama perjalanan, hanya berbagi kabar serta kesibukan kita masing-masing.
Waktu kunjung sedang ramai-ramainya, tidak sedikit dari buku-buku yang dipamerkan menarik pandangan.
Ayo masuk. (essa kembali mengajaku)
Tak terasa sudah 15 menit kita cari-cari buku, tapi belum ada yang berhasil menarik untuk dibeli. Akhirnya, saya memilih beberapa buku untuk saya beli dan langsung saya masukkan ke tas. Essa masih mencari-cari terlihat serius dengan tampak beberapa buku yang sudah dipegang.
“Inikah tujuan dari semua langkah?
Mengantarkan saya pada rasa yang megah?”Sudah dapat bukunya? (Essa membangunkan lamunanku) Ouh iya ada apa ess. Hmm...ayok sudah kan?
Ouh yaa udah ini, kamu tunggu di parkiran dulu yah saya beli minuman.
“Bagaimana kiranya aku bisa sampai di sini?
Aku yang memilih, atau tempat ini yang terpilih untukku?”
Pikiranku kembali di hantui pertanyaan-pertanyaan yang tak tau kemunculannya.
Di minum dulu ess.
Ouh iya, capek juga kita cari-cari buku tapi asyik juga sih. Ouh iyaa kamu dapet buku berapa?
Aku dapet 3 buku, novel sama buku bacaan biasa. Kamu dapet berapa ess?
Sama 3 buku juga.
Saya kembali menyeruput es kopi milikku, manis dan pahitnya menyatu menjadi pengisi daya semangatku. Gelak tawa kemudian menghiasi suasana yang sudah semakin sore. Ya, ini membuatku selalu senang selalu ada hal yang bisa dibicarakan dengan lebih personal, dan membuat kita selalu bisa merasa lebih dekat.
Tiba-tiba pikiranku kembali di penuhi pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.
“Bagaimana jika sebuah perkenalan pada akhirnya memang akan berakhir dengan perpisahan?
Apakah kamu masih akan semangat untuk menunggu sebuah pertemuan?
Bagaimana jika sebuah perjumpaan hanyalah awal untuk kemudian saling meninggalkan?
Apakah kamu lantas akan percaya kepada mereka yang mendekat?”
Kita beranjak dari perbincangan dan memutuskan untuk pulang karena waktu sudah semakin sore.
Perjalanan memang tidak pernah salah memerangkap dua orang asing untuk kemudian menjadi lebih dekat dan melabuhkan nyaman. Ada banyak hal yang tak perlu dipaksakan untuk bisa dimengerti, tapi memang ternyata semudah itu untuk diterima. Tak lain hanya karena cara berpikirku dengannya yang ternyata sama.



Mantap bang
BalasHapus