Fatwa yang bikin Bingung (Bagian 2)
Pandemi Covid-19 yang ramai di bicarakan hingga tontonan di TV memberitakan semua, nampak tidak ada yang mau ketinggalan update. Himbauan social distancing membuat sebagian orang harus berdiam di rumah dan sebagian harus tetap mencari nafkah untuk menyambung kebutuhan hidup keluarga.
Sore ini membuat saya sedikit bosan yang seharian berdiam diri di rumah saja, seketika Hp ku berbunyi menandakan ada pesan masuk. Ternyata teman-teman sedang bertanya masalah ibadah shalat jum’at kemarin di group Whatsapp.
Ternyata, tidak hanya di tempat saya teman-teman yang di luar kota pun mengalami hal yang sama. Ada yang mengadakan shalat jum’at berjamaah di masjid ada juga yang memilih shalat dzuhur di rumah masing-masing, dan bahkan mereka yang melakukan shalat di masjid harus melonggarkan shoff nya menjaga jarak antara jamaah yang satu dengan yang lain-Nya demi menghindari terpaparnya virus ini.
Tak lama kemudian saya teringat dengan salah satu ulama tafsir Indonesia yang banyak di kenal Prof. Quraish Shihab, ada beberapa koleksi buku saya yang di tulis oleh beliau.
Di dalam kutipan buku beliau yang berjudul “Islam yang Saya Anut” membahas tentang dasar-dasar ajaran Islam.
Al-Qur’an adalah “Hidangan Allah”. Tentu saja hidangan Allah Yang Mahakaya itu banyak dan beraneka ragam. Dia Yang Maha Pemurah itu mempersilahkan kita untuk memilih apa yang terhidang.
Setiap muslim yang memenuhi syarat-syarat ilmiah di persilahkan untuk berijtihad, yakni mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menemukan hukum rinci yang bersifat amaliyah dengan merujuk kepada dalil-dalil agama.
Sementara bagi mereka yang tidak mampu di persilahkan untuk memilih salah satu dari pendapat para ulama yang berijtihad tesebut.
Adanya keanekaragaman pendapat menyangkut rincian ajaran Islam memberi kemudahan kepada umat dalam melaksanakan tuntunan agama. Ketika seseorang mengalami kesulitan untuk melaksanakan satu tuntunan maka dia memiliki peluang untuk menghindari kesulitan itu dengan memilih pendapat lain.
Hal ini selaras dengan bunyi satu ungkapan yang di nisbahkan kepada Nabi Muhammad saw. atau tokoh selain beliau: “Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat.” Rahmat di sini tentu saja bila perbedaan tersebut di pahami dan di sikapi dengan benar.
Tak terasa ternyata, Saya larut dalam tulisan beliau yang sangat bermanfaat, setiap urian yang di berikan tidak panjang sehingga membosankan, tapi tidak juga singkat sehingga masih menimbulkan dahaga.
Beliau pun menegaskan di dalam wawancara beliau yang banyak di unggah dalam sosial media.
Agama Islam telah memberikan tuntunan bagi Muslim dalam menyikapi perlu tidaknya melakukan suatu kegiatan, yaitu menghindari keburukan atau madharat lebih di utamakan dari pada mendatangkan manfaat.



Komentar
Posting Komentar