Membangun Motivasi
Menulis membuatku menjadi fluoxetine (obat untuk gangguan psikologi) yang lagi rajin aku konsumsi untuk memperlancar sirkulasi serotonin dalam diri. Membuatku lebih tenang dan nyaman dengan keadaan sekarang akibat Covide-19 yang hanya berdiam diri di rumah.
Jari-jari ini aku biasakan menari di atas keyboard, dari setiap huruf yang terjalin hingga menemukan maknanya sendiri.
Serta, buku-buku yang tersusun rapi di rak tak lagi enak untuk di pandang, yah..
Untuk menambah bahan tulisan serta referensi seringkali harus membuka kembali semua buku-buku koleksiku.
Pernah ada seseorang berkata,
“Teruslah menulis sebab karenamu aku tahu bagaimana mengungkap rasa.”
Pernah ada seseorang berkata,
“Teruslah berani mengutarakan rasa melalui tulisanmu, sebab karenanya aku menjadi mampu memikirkan apa yang sebelumnya tak pernah kurenungkan.”
Mungkin kata-kata di atas memberi arti untuk teman-teman yang sering mengutarakan rasa melalui tulisan di Whatsaap, Facebook, dan Twitter sebagai kebutuhan insta story.
Dan bagi saya juga yang harus mengisi Blog ini untuk mengutarakan segalanya dalam sebuah tulisan. Mungkin tidak sebagus tulisan yang ada di Blog lain, bagi saya yang masih belajar.
Sebagian besar dari antara kita mengambil suatu tindakan setelah kita merasakan tingkat motivasi tertentu. Dan kita merasakan suatu motivasi hanya ketika kita merasakan inspirasi emosional yang cukup.
“Tindakan bukan hanya efek dari suatu motivasi; ini juga menjadi penyebab suatu motivasi.”




Nais
BalasHapus